Saturday

Optimalisasi periode awal pemeliharaan ayam broiler

MitraPeternakanSejahtera.  Pada artikel sebelumnya telah kita bahas mengenai "Pentingnya Fokus Pemberian Pakan pada 7 hari awal pemeliharaan ayam broiler".  Kali kita akan membahas hal-hal apa saja yang perlu menjadi perhatian kita diawal pemeliharaan.  Hal ini penting untuk diperhatikan karna ini yang akan menjadi fondasi awal pemeliharaan ayam broiler dan ini sangat ditentukan oleh performa secara umum pada minggu pertama.

Hal-hal yang penting untuk dilakukan pada saat awal-awal pemeliharaan ini diantaranya :


1.  Culling selective (afir ayam secara selektif).  Saat kedatangan anak ayam di kandang, selain tatacara manajemen penerimaan DOC dijalankan dengan sebaik-baiknya alangkah baiknya dilakuka cek kualitas anak ayam yang diterima.  Ayam yang kondisinya dehidrasi parah fase awal (dengan gejala kaki kering, bulu kusam), cacat fisik/defect congenintal (paruhnya tidak simetris, kaki tiga, mata satu tidak ada dan sebagainya), berat ayam yang jauh dibawah standar, dyspone berat (susah sekali bernafas, sehingga harus menjulurkan lehernya ke atas), omphalitis parah (radang pada pusar yang menyebabkan pusar berair, bengkak dan radang) harus diafkir sedini mungkin.  Ini sangat penting dilakukan karena selain akan menggerus konversi pakan jangka panjang yang lebih parah lagi bisa menjadi sumber penyakit baik virus ataupun bakteri dikemudian hari (gambar 1). 


2.  Penggunaan pakan pre starter.  Pakan sebagai sumber energi dan nutrisi harus benar-benar maksimal dan optimal pada fase kritis 7 hari pertama.  Pakan pres starter dengan kandungan protein dengan densitas yang cukup tinggi ini amat sangat menunjang proses perbanyakan sel (hipertropi), termasuk sel-sel pada organ limfoid primer (organ-organ utama system kekebalan : bursa fabricus, limpa, dan tonsil).  Beberapa praktisi menyarankan minimal 140 gram sampai 180 gram tergantung dari pertumbuhan dan kondisi ayam.  bahkan sering ditingkatkan sampai 200 gram jika kondisi ayam kurang begitu baik pertumbuhan ayamnya pada umur 6 atau 7 hari.  target pencapaian berat fase awal ini harus tercapai minimal 200 gram dengan berat DOC minimal 32 gram.  Manajemen brooding dan manajemen litter menjadi point utama sehubungan dengan penggunaan pakan pres starter ini.

3.  Pemberian terapi pendukung (supportive therapy).  pada fase pemeliharaan ini, untuk mengoptimalkan fungsi fisiologi normal ayam sangat dianjurkan diberikan tambahan mikronutrisi misalnya asam amino (methionin, lysin, thriptophan), hepatotonik (memperkuat fungsi hati).  Bahkan ada sediaan early bird (nutrisi tambahan yang biasa diberikan saat anak ayam masih dalam perjalanan, atau bisa juga diberikan saat kedatangan fase awal ayam di kandang).

4.  Langkah perubahan fisik tempat pakan (pan feeder/chick feeder tray ke baby chick feeder).  Seiring dengan semakin pesatnya potensi genetik ayam broiler ini berkembang, upaya-upaya manajemen peralatan pun harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan yang ada.  Tempat pakan ini selain berfungsi untuk menyediakan pakan dalam jumlah yang cukup, juga kualitas pakan dalam jumlah cukup, juga kualitas pakan yang harus terjaga dengan baik.  Dengan menggunakan baby chick feeder terbukti bisa lebih menjaga kualitas pakan dalam waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan penggunaan nampan DOC (chick feeder tray).  Bisa dibayangkan jika ayam buang kotoran di nampan DOC.  Selain akan mencemari pakan, akibat yang lebih parah adalah munculnya akumulasi produk-produk sekunder (biogenic amine) dari bercampurnya kotoran ayam dan pakan di dalam nampan DOC.  Kebiasaan yang terjadi adalah operator kandang akan berusaha memisahkan antara apakan yang sudah cukup lembab menempel di dasar nampan DOC dan membuangnya.  Hal ini akan berdampak pada semakin banyaknya pakan yang akan terbuang dan tidak menjadi daging, tentunya jangka panjang akan berpotensi menggerus konversi pakan dan berakibat pemborosan.  Secara bertahap akan menimbulkan tidak efisiennya proses pemeliharaan ayam baik jangka pendek ataupun jangka panjang.  Salah satu efek penggunaan nampan DOC (chick feeder tray) adalah munculnya kontaminan yang secara jangka panjang akan berefek selama pemeliharaan ini yaitu biogenic amine.  Ini merupakan hasil sampingan dari degradasi asam amino yang berasal dari bahan pakan asal hewan, dimana beberapa jenis bakteri (salmonella, clostridium, escheria, lactobacillus dll), mampu mengubah beberapa macam asam amino menjadi biogenic amine.  Komponen yang merugikan ini secara jangka panjang akan menyebabkan erosi pada gizzard.  salah satu contohnya asam amino histidin diubah menjadi histamine, dimana histamine ini akan berpotensi merangsang reseptor sel kelenjar di proventrikulus untuk meningkatkan sekresi asam hydrochloric (HCL) dan efek akhirnya menyebabkan erosi tembolok.  Korelasi antara keberadaan biogenic amine dengan performa ayam yang buruk setelah ayam dipanen ini banyak diteliti di bagian tenggara AS dan sudah dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah yang salah satunya menyebutkan efek negatif dari pembesaran ukuran proventrikulus dengan hipertropi kelenjar papilarianya.

Langkah-langkah optimalisasi tersebut harus dilakukan sehingga selain potensi genetika bisa terepresikan dengan baik, tentunya bisa menambah tebal kantong peternak dengan semakin baiknya konversi pakan dan banyaknya efisiensi lain yang bisa dilakukan dari langkah optimalisasi tersebut.  Selamat berinovasi demi terwujudnya peternakan broiler yang sehat, efisien dan berdaya juang yang tangguh dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat. dr.Eko Prasetio, Private commercial Broiler farm consultant of Tri Group.

Sumber : Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2014


Advertisement
Comments
0 Comments