Monday

Penggunaan Nipple Dringker pada Ayam Broiler

 

Blog.Mitrapeternakan.com - Penggunaan nipple drinker tidak dapat secara langsung menimbulkan gangguan pertumbuhan. Penggunaan nipple drinker tidak menyebabkan ayam malas minum, karena debit airnya sesuai kebutuhan ayam (70–80 ml/menit), dan mudah diakses oleh ayam. Jika pemasangan nipple di kandang ada yang kurang tepat seperti pipa melengkung, maka akan menyebabkan tidak semua ayam mendapatkan air minum yang cukup. Jika konsumsi air minum tidak cukup akan beresiko terjadi dehidrasi dan menganggu proses pencernaan. Maka saat pemasangan nipple drinker, instalasi pipa harus diperhatikan.

Pemasangan nipple drinker

Pemasangan nipple drinker mudah dilakukan yakni langsung dipasang pada pipa yang sudah dilubangi (diameter lubang 9-10 mm). Sebagai gambaran instalasinya di kandang dapat dilihat pada gambar berikut.


Nipple drinker sudah banyak digunakan oleh peternakan ayam. Nipple drinker mengalirkan air secara tertutup dari dalam pipa sehingga lebih higienis. Hindari hal-hal yang dapat mengurangi nafsu minum ayam seperti bau kaporit yang belum menguap, air minum hangat karena saluran air atau torn yang tidak ditempatkan di tempat teduh, atau pH air yang terlalu asam atau basa.

Perawatan nipple drinker

Perawatan yang perlu dilakukan pada instalasi nipple drinker cukup mudah, yakni dengan flushing. Flushing nipple drinker secara rutin wajib dilakukan mengingat timbunan mineral, materi organik, dan lendir dapat membentuk biofilm. Biofilm merupakan lapisan slime/lendir polisakarida kaya protein, apabila menumpuk dalam pipa paralon dapat menyumbat nipple dan menjadi tempat “persembunyian” yang disukai mikroorganisme patogen seperti bakteri E. coli, Salmonella sp, dan lainnya yang tentunya menjadi sumber penyakit bila diminum ayam. Slime juga bisa muncul akibat penggunaan antibiotik atau vitamin air minum yang terlalu sering.

Untuk mempermudah proses menghilangkan biofilm saat flushing pada nipple drinker dapat menggunakan bahan kimia, seperti:

  • H2O2 (hidrogen peroksida).  Dosis 500 ml/25 liter air dengan tekanan 1,5–3,0 bar. Diamkan dahulu larutan H2O2 yang telah dicampur air dalam pipa paralon selama minimal 1 jam. Waktu pelaksanaan flushing adalah 1 menit setiap 30,3 m pipa
  • Asam sitrat.  Dosis 3 gram/liter
  • Asam cuka.  Dosis 8 ml/liter yang didiamkan selama 1 jam


Flushing dapat dilakukan saat kosong kandang tiap periode atau paling lama 2–3 periode sekali (pedaging). Pada ayam petelur dapat dilakukan minimal 1–2 bulan sekali. Frekuensi flushing dapat ditingkatkan pada kandang yang sering memberikan medikasi melalui nipple drinker.



Vaksinasi air minum dapat diberikan melalui nipple drinker, namun memerlukan perhatian khusus pada beberapa hal seperti persiapan vaksin, pengamatan saat vaksinasi, dan pengamatan keseragaman hasil vaksinasi.

Sebelum vaksinasi, dapat dilakukan langkah berikut :
  • Lakukan pencucian torn dan flushing untuk mengangkat biofilm dari saluran pipa, karena dapat mengganggu kinerja vaksin
  • Pembilasan saluran air sesudah flushing haruslah tuntas dan dipastikan tidak ada sisa air yang mengandung H2O2/asam cuka karena selain dapat mengurangi nafsu minum ayam juga akan merusak stabilitas vaksin yang akan diberikan. Bila perlu lakukan cek pH air dari nipple dengan pH meter atau kertas lakmus sebelum dialiri larutan vaksin. Jika pH masih asam, lakukan pembilasan beberapa kali
  • Pastikan saluran pipa nipple tidak bocor yang dapat mengurangi dosis vaksin yang diberikan dan tidak tersumbat sehingga semua ayam mempunyai kesempatan yang sama untuk minum larutan vaksin

Proses vaksinasi air minum dapat dilakukan seperti biasa, yaitu dengan mencampur air dengan Medimilk sebelum vaksin dilarutkan. Larutkan vaksin dengan sejumlah air sesuai kebutuhan ayam selama 2 jam. Pastikan Medimilk larut sempurna agar tidak menyumbat nipple. Angkat nipple selama 1–2 jam (tergantung kondisi cuaca) agar ayam puasa minum. Alirkan larutan vaksin hingga memenuhi nipple yang paling ujung lalu turunkan nipple, agar ayam dapat minum secara bersamaan. Dan pastikan vaksin terkonsumsi habis. Saat vaksinasi, kita perlu memastikan semua ayam minum vaksin.

Kendala yang biasa dihadapi saat pelarutan vaksin di torn adalah saat vaksinasi air minum yang mengandung vaksin tidak dapat habis dengan tuntas karena letak pipa output lebih tinggi dari dasar torn.


Untuk vaksinasi dapat menggunakan torn khusus medikasi atau bila tidak memungkinkan dapat menggunakan metode vaksinasi yang lain seperti diteteskan atau di-spray (sesuai dengan anjuran produsen vaksin).

Terakhir sebagai kontrol keberhasilan vaksinasi, lakukan pengambilan sampel serum untuk pemeriksaan hasil vaksinasi 2–3 minggu post vaksinasi. Amati kadar titer, tingkat kekebalan, dan keseragaman hasil vaksinasi. Keseragaman titer hasil vaksinasi sebaiknya < 35%. Gambaran titer antibodi yang baik menandakan vaksinasi yang dilakukan berhasil dan aman bagi ayam.


Sumber : Info Medion Edisi Mei 2016
Advertisement
Comments
0 Comments