Sunday

Pentingnya Mengetahui Penyakit Infeksi Bronchitis

Blog.Mitrapeternakan.com - Infectious Bronchitis biasa disingkat IB menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar di industri perunggasan.  Pada ayam broiler komersil IB menyebabkan turunnya performa karena rendahnya pertambahan berat badan dan tingginya feed convertion ratio (FCR).  IB type nephropathogenic menyebabkan kerusakan pada ginjal dan juga kematian.  Pada broiler breeder dan layer komersil, infeksi IB menyebabkan infeksi saluran pernafasan, turunnya produksi dan menurunnya kualitas telur.  Meskipun biosecurity dan manajemen merupakan faktor yang penting untuk mengontrol IB, vaksinasi juga merupakan faktor penting untuk meningkatkan kekebalan dan resistensi ayam terhadap infeksi IB di lapangan.  Konsep Protectotype merupakan cara efektif untuk mengatasi masalah IB yang terus terjadi di lapangan.

Infectious Bronchitis (IB) adalah penyakit pernapasan akut dan sangat menular pada ayam. Penyakit ini ditandai dengan adanya gejala pernapasan, seperti terengah-engah, batuk, bersin, ngorok, dan keluarnya sekresi hidung. Pada ayam muda, gangguan pernapasan parah dapat terjadi, sedangkan pada layer, dapat terjadi gangguan pernapasan, penurunan produksi telur, dan penurunan kualitas telur. Beberapa strain dilaporkan menyebabkan kerusakan pada ginjal, saluran reproduksi dan saluran pencernaan.

ETIOLOGI Infectious Bronchitis

Virus IB tergolong genus coronavirus dari family Coronaviridae. Virus IB termasuk virus ss-RNA, berbentuk spherik atau pleomorfik  dengan  diameter  90-200 nm, diselubungi kapsid bentuk simetri heliks dan beramplop yang terdiri dari lipoprotein.

Gambar  1. Struktur dan gambaran  elektron  mikroskop virus IB. 
(Sumber : http://www.fipv.ugent.be/page2/page2.html)

Virus IB dengan panjang genom 27,6 Kb, yang tersusun atas 5’UTR-polymerase gen —(S-E-M-N)-UTR’3 menyandi 6 protein, yakni S (spike) glycoprotein, M (membrane/matrix), N (nucleocapsid) dan E (envelope). Protein S merupakan protein penting yang memiliki banyak fungsi, antara Iain mampu memicu timbulnya antibodi netralisasi dan hambatan hemaglutinasi, penentu serotipe spesifik dan mampu menimbulkan protektivitas, serta dapat digunakan untuk mengklasifikasi virus. Protein S (terdiri 500-600 asam amino) merupakan protein attachment yang akan menempel ke reseptor seluler dan mengaktifkan fusi ke membran set, serta melepas viral genom ke dalam sel Protein M akan berinteraksi dengan protein S dan N (420 asam amino) membentuk virion dan memainkan peran penting pada assembly, budding dan maturation virus. Protein E (100 asam amino) hanya sedikit perannya, yakni sebagai titik kritis pada viral budding dan apoptosis.

EPIDEMIOLOGI Infectious Bronchitis

Sifat Alami Agen

Virus IB memliki banyak genotype, serotype, strain dan varian yang berbeda secara antigenik, tetapi ada serotype virus IB yang dapat melindungi terhadap beragai varian yang ada. Sifat ini disebut protectotype atau immnunotype. Contoh protectotype adalah serotype Massachusetts. Serotype Massachusetts mewakili protectotype paling penting karena memiliki kemampuan untuk saling melindungi terhadap sejumlah virus yang termasuk serotipe atau genotipe yang berbeda.

Virus IB diketahui gampang bermutasi secara cepat. Sampai saat ini telah diketahui terdapat 7 genotype dan sekitar 100 serotype. Perbedaan antar serotype dapat mencapai 20-25%, sedangkan di antara serotype perbedaan dapat mencapai 50%. Perubahan genetik virus IB dapat terjadi melalui mutasi titik, insersi, delesi ataupun rekombinasi. Tiga penyebab utama mutasi menyebabkan terjadinya genetic drift, sedangkan rekombinasi menyebabkan terjadinya genetic shift.

Contoh serotype virus IB antara lain, Massachusetts, Connecticut dan Arkansas yang banyak dijumpai di daratan Amerika Utara. Contoh Virus IB variant : 4/91 atau 794B atau CR88 (ditemukan awal 1990-an di lnggris, Spanyol, Perancis dan Netherland), varian Holland D274 (Netherlands), ltalian-02 (akhir 1990-an di ltalia dan baru dipublikasi tahun 2002), Ark-DPI (2005 di Arkansas), GA98 (1998 di Delaware), CAL99 (1999, California), GA08 (2007, Georgia). Virus IB varian GA98 mirip dengan serotype Delaware; GA08 mirip dengan CA557/03; tetapi varian CAL99 beda dengan CA557/03. Belakangan dikenal IB Pinguin yang ditandai dengan cara berjalan ayam seperti Pinguin, yang disebabkan oleh varian QX (Qingdao, China) atau D388 (Dutch, Netherland tahun 2004). Di Indonesia banyak ditemukan varian local, seperti I-14, I-37, I-126, I-269 dan PTS-III.

Spesies Rentan

Spesies rentan terhadap penyakit IB hanyalah ayam, baik broiler ataupun layer, tetapi pernah dilaporkan kejadian pada itik dan burung liar.

Pengaruh Lingkungan

Virus IB sangat sensitif terhadap berbagai jenis desinfektan, seperti formalin 1%, kresol 1%, alkohol 70% dan KMn04 1/10.000.  Virus IB tetap infektif di dalam air pada pH 7,4 selama 24 jam pada suhu kamar, tetapi cepat inaktif pada suhu 56 C selama 15 menit dan suhu 45 C selama 90 menit atau suhu 37 C selama 36 jam.  Virus dapat disimpan pada 60 C di dalam cairan alantois dalam beberapa bulan.

Sifat Penyakit

Virus IB pada awal penularan menginfeksi dan bereplikasi di dalam saluran pernapasan atas menyebabkan hilangnya sel pelindung yang melapisi sinus dan trakea.  Setelah viremia singkat, virus dapat dideteksi pada ginjal, saluran reproduksi, dan jaringan imfoid (sekal tonsil).  Beberapa strain IBV, yang disebut sebagai nephropathogenic diketahui menyebabkan lesi pada ginjal

Cara penularan

Virus IB menyebar melalui rute pernafasan (droplet) yang dikeluarkan selama batuk atau bersin dan juga dieksresu lewat feses.  Penyebaran penyakit melalui kawanan unggas dalam satu flock sangat cepat.  Masa inkubasi relatif pendek antara 18-36 jam.  Sehari pasca infeksi, virus dapat dideteksi pada trachea, ginjal dan oviduct.  Sampai hari ke 13 virus masih dapat dideteksi pada paru, trachea, ovarium dan oviduct.  Sampai hari ke 21 virus masih dapat ditemukan pada ginjal, sedangan pada sekal tonsil virus masih dapat dideteksi sampai hari ke-30.  Transmisi dari peternakan ke peternakan dihubungkan dengan mobilitas orang, peralatan, bahan organik, air minum dan kendaraan yang terkontaminasi.  Penularan secara vertikal belum terbukti, tetapi telur yang terkontaminasi virus IB yang menempel pada kerabang telur dapat menjadi sumber penularan di hacthery.  Setelah infeksi, ayam dapat bertindak sebagai carrier dan mengeluarkan virus selama beberapa minggu.

Distribusi Penyakit

Penyakit ini pertama kali dijelaskan pada 1931 di sekawanan ayam muda di Amerika serikat.  Sejak saat itu, penyakit ini telah diidentifikasi pada broiler, layer, dan breeder di seluruh dunia.  Vaksin untuk membantu mengurangi kerugian ada ayam pertama kali digunakan pada tahun 1950.  Di Indonesia, kejadian IB dilaorkan pada tahun 1977.  Frekuensi kejadian IB di Indonesia lebih sering terjadi pada layer dibanding broiler, tetapi mortalitas, gangguan pertumbuhan dan jumlah ayam yang diafkir cekup tinggi pada broiler.  Meskipun vaksinasi sudah diterapkan secara teratur dan ketat, tetapi kasus IB masih sering muncul.  Hal ini muncul sebagai akibat adanya perbedaan antigenic antara virus vaksin dan virus lapangan, sehingga virus vaksin kurang bisa menangkal infeksi virus lapangan.

Faktor pendukung kejadian penyakit di Indonesia adalah umur ayam yang berbeda dalam satu lokasi dengan program vaksinasi yang bervariasi terhadap IB, system pemasaran telur dalam egg tray atau peti telur yang berpindah-pindah dari satu peternakan ke peternakan lalinnya atau dari satu daerah ke daerah lainnya, lokasi peternakan satu dengan lainnya yang terlalu berdekatan, meskipun system manajemennya sangat berbeda dan adanya varian virus IB yang berbeda dengan varian dalam vaksin.




Advertisement
Comments
0 Comments